Rabu, 17 Juni 2015

Perbedaan Mendasar antara E-commerce dengan Retail Konvesional

Perbedaan mendasar dari e-commerce dan retail konvesional   
-     Harga produk sampai ketangan konsumen pada bisnis retail dan e-commerce haruslah sama.
-     E-commerce  tidak harus memiliki produk
-     Biaya promosi dan distribusi pada bisnis konvensional akan menjadi keuntungan E-commerce yang menjadi bonus member
-     E-commerce berfungsi sebagai REGULATOR dengan tugas  Menyiapkan perijinan administrasi kantor serta menyiapkan produk yang akan di pasarkan
-  Merancang rencana pengembangan usaha (marketing plan) yang mengatur syarat keanggotaan member, cara mengembangkan usaha, serta perhitungan bonus dan cara pembayaranya
-    Member E-commerce bertugas sebagai EKSEKUTOR dengan tugas mengkonsumsi, mempromosikan mendistribusikan dan mengajarkan orang lain untuk membangun jaringan


Sabtu, 13 Juni 2015

Ada beberapa yang sangat mendasar antara system bisnis MLM dengan Money game, selanjutnya disingkat MG, yaitu:
1. Biaya pendaftaran keanggotaan
MLM: Bea pendaftaran sebagai member dalam bisnis MLM kecil karena hanya untuk menggantikan biaya administrasi, seperti brosur, tas,starterkit, sampel produk, dll
MG : Pada bisnis money game, biasanya uang pendaftarannya mahal, dari Rp.200.000 hingga jutaan, mereka berkedok menjual produk yang sebenarnya berkualitas rendahan atau tidak sesuai dengan uang pendaftaran member, sponsor/upline mendapatkan profil secara langsung. Sehingga hal ini berpotensi menimbulkan kerugian pada member yang bergabung dibawah (donline).

Produk– Produk yang dijual di MLM
Memiliki ijin depkes, BPOM, atau bersetifikat luar negeri. Mudah dijual di pasaran karena harga dan kualitas masih rasional bagi konsumen.
Usaha masih dapat berjalan meski tidak memiliki downline.
Perusahaan memberi jaminan terhadap produk yang dijual.
Perusahaan memiliki departemen khusus yang menangani penelitian dan pengembangan produk.
Keuntungan utama perusahaan adalah dari omzet penjualan produk, bukan dari membership.
Sedangkan pada bisnis Money Game:
Produk biasanya tidak bisa atau sulit dijual, bahkan pelaku sendiri enggan memakainya.
Membership lebih penting dari produk atau dengan istilah lain tujuan dari transaksi adalah komisi dan bukan produk.
3. Marketing Plan
MLM : Perusahaan MLM yang murni memiliki planning pemasaran yang jelas, dari mana asal keuntungannya, level atau peringkat yang bisa dicapai, passive income, aturan main, dan kode etik bagi member. Bonus yang diperoleh adalah berdasarkan OMZET penjualan.Bisnis MLM tidak mengenal sistem binary ataupun piramida dalam marketing plan-nya, tetapi menganut win-win sistem. Profit yang diperoleh upline mendatangkan profit juga bagi downline-nya. Ada prinsip keadilan dalam bisnis, dimana downline yang lebih giat dan fokus dalam bekerja bisa memperoleh profit atau peringkat karier lebih tinggi dari upline-nya.
MG :Sedangkan pada Money game, berlaku sistem binary ataupun piramid, dimana upline pasti dapat untung lebih besar. Bonus yang diperoleh adalah berasal dari biaya pendaftaran para membernya.
4. Surat ijin APLI dan WFDSA

APLI (asosiasi penjualan langsung Indonesia) dan WFDSA (World Federation of the Direct Selling Associations), merupakan organisasi yang beranggotakan perusahaan MLM Direct Selling (Penjualan langsung) murni. Dalam organisasi ini ada departemen yang menyelidiki tentang sistem bisnis MLM apakah sesuai aturan atau tidak. Kedua organisasi tersebut juga berperan dalam memberi masukan kepada pemerintah tentang konsep MLM yang sebenarnya. Perusahaan money game tidak tergabung dalam anggota APLI dan WFDSA